Feeds:
Posts
Comments

Untuk Sakura

Sakura, tak terhitung berapa banyak kelopak yang sudah menerbitkan keindahan bersama hangatnya musim semi. Pada helaian-helaian putih yang merekat erat di pondasi yang dulu menjagamu dikala dingin, ada suatu ikatan yang membuatmu menjadi sesuatu yang nyata. Dengan keegoisanmu yang ramah, kau mengundang seluruh penghuni musim ini untuk menjadikan mu ratu sehari, oh tidak, mungkin seminggu, sebelum kau melepaskan keanggunanmu dan kembali sembunyi pada kelopak yang lain.

Dan masih kuingat, helai-helai musim lalu, ketika aku baru saja jatuh cinta dengan warna warnimu yang begitu putih. Seperti baru kemarin, dedaun kecilmu menari dan jatuh tepat menyentuh hatiku. Masih kurasakan nafas kehidupan pada setiap bagian yang terpisah dari persemaianmu. Begitu lembut dan rapuh, dan kubertanya, bagaimana mungkin kau menatap derasnya angin yang begitu angkuh tuk mengantarmu pulang?

Oh sakura, karena kesederhanaanmu, begitu gampang engkau melupakan ribuan mata yang pernah singgah untukmu sesaat lalu. Mungkin ada seseorang yang sudah begitu sabar menunggumu, menjagamu, dan tulus melepasmu pergi. Namun, engkau adalah suatu kenangan yang terlalu kecil untuk diingat, namun terlalu indah untuk dihapus. Andai aku adalah engkau.

Gwangju, April 6th 2010

Advertisements

An encounter with you

Di hari tua,
yang sedang berjuang untuk ceritanya,
aku ada dan berdoa
tuk nikmati sisa-sisa kepenatan pada kisah sedihnya.

Rintik kecil di mendungku,
pernah berganti dengan pelangi jingga
Goresan basah di persimpangan jalanku,
pun pernah terbalut dan sembuh.

Petikan-petikan jejari mungilku,
pernah mengirimkan rangkaian-rangkaian kasih,
tertata rapi dengan kesederhanaan,
terikat dengan ketulusan.

Kata-kata dari keluguanku,
pernah menerbitkan mentari di senyummu,
dia juga pernah membawa awan gelap ditidurmu,
dan sepenggal kenangan di mimpimu.

Dan jika aku berhenti,
mengingat suatu pertemuan tanpa batas
karena kerinduan hati yang menunggu pada garis memori
hanya untuk mengecup bayang-bayang yang sembunyi di pojok hati

Betapa sunyi ketika semua menjadi bisu
dan aku berdiri pada persimpangan semu,
menanti suatu janji yang diteguhkan oleh waktu,
namun terhapus sebelum kusatukan langkahku

Lagu yang kita mainkan pagi ini,
harus pulang dengan melodi yang patah.
Tulisan yang kita rangkai bersama,
harus selesai pada titik ego yang beradu tanpa jawaban

Kepingan hati yang masih menunggu,
biarkan dia mati disini,
membawa bendera hitam,
dan menangis pada suatu akhir

Dan kubawa perasaan yang bukan lagi aku,
dan kupulang dengan tekat yang bukan lagi aku,
dan aku, akan terus menjadi aku yang bukan aku.
karena kasih yang bukan untukku.

Gwangju, 2-2-2010
Yulia

Harapanku (2)

Sekali lagi, kuberjalan diatas putihnya musim dingin yang sudah kehilangan harapannya. Dan kuberikan setitik airmataku sebagai salam kehangatan dari hatiku untuknya. Kembali, kugoreskan namaku sebelum kemarahannya menghapus apa yang sudah tertulis. Bukan hanya satu warna kehidupan yang kuselipkan disini, namun seluruh kepingan kepingan rapuh musim gugur lalu yang sudah kususun kembali. Akhirnya, sang waktu yang memenangkan segalanya sampai hari ini.

Sesaat lalu, kutuliskan cerita yang sama pada lembaran yang baru, membangun harapan-harapan dengan pena yang baru. Keteguhan yang begitu kokoh, membuatku iri pada pohon-pohon pinus yang masih beradu dengan pucatnya nafas musim ini. Ketika seluruh alam berduka dan tertidur, ia masih berpijak pada keangkuhannya dan memegang erat dedaun yang berlindung pada kehangatannya. Andaikan aku adalah bagian dari helaian kecil itu, aku akan menari dengan melodi yang tak akan pernah layu disela-sela dukaku.

Kurasakan salju-salju itu sedang membekukan hatiku secara perlahan. Segala asa yang kutitipkan pada mentari yang hanya menjadi aksesoris, jatuh dan tenggelam bersama kepedihan senja. Aku ingin berlari, mengadu kepada langit yang sudah cukup berat menahan bebannya. Aku ingin kembali kepada kehidupan, ia pun sedang sibuk menyusun kembali kisah-kisah yang mulai berantakan. Dan tinggallah sisa-sisa kasih yang harus kulepaskan perlahan dan mengijinkannya menemukan fondasi yang lebih kuat dari hari ini.

Ketika permainan ini harus selesai dengan kepedihan, semoga ia melahirkan suatu ketulusan sebagai hadiah dari keiklasan. Kenyataan yang membangunkanku membuatku tersadar, dinginnya salju yang sudah mulai tinggal pagi ini dan hangatnya matahari yang pergi dengan kesedihan adalah suatu pilihan indah yang membuat aku ada.

Gwangju, January 25 2009
Yulia

Suatu Pilihan

Kuberdiam di pantai kehidupan, yang terus mengirimkan ombaknya bersama seribu harapan yang terhempas lalu pergi.
Kutertegun memandang betapa birunya kehidupan yang berpadu mengiringi kontrasnya duka cerita yang dikirimkan sang angin senja ini.
Baru kemarin kumasuki dunia ini, berusaha menyingkap tabir rahasia tentang indahnya suatu perasaan. Di lautan ini, kutemukan kembali suatu sosok yang menjadikan aku seseorang diantara bulir-bulir awan yang beradu membentang cakrawala.
Ketika ketidaksempurnaanku menyatu mengiringi pedihnya sengatan mentari, dia yang meluluhkan segala keangkuhan dalam peraduannya siang ini. Saat butiran pasir menyentuh kakiku dengan egonya, dia yang memohon hari ini untuk melepasku.
Dan senja ini, aku menambahkan massa di tepian lelautan yang masih sama sepeti kemarin. Ombak yang mengejar sisa hari ini terus mengajakku menggapai mentari yang sebentar lagi tidur. Kuberdiri, dan kudapati hatiku pada dia yang membuatku sempurna, jauh dan terluka. Kuingin berbalik dan mengajaknya merajut sinar-sinar senja ini bersama digaris malam. Kuingin tinggal dihatinya dan menghabiskan sisa nafasku untuk mengasihinya, jika itu adalah suatu pilihan.

For someone who makes me a perfect woman in my imperfect life.

Flash Back

Kutertegun sejenak di peraduan waktu,menatap bayang-bayang yang memantulkan cerita-cerita lama.Disana ada gadis mungil, merapikan rambutnya yang terlipat oleh nakalnya angin senja. Dia berlari kecil, menjangkau sosok-sosok dewasa yang begitu hebat dibenaknya. Pada akhirnya dia jatuh dan menangis, namun dia tetap mendapatkan mentari slalu masih ada disana hingga tangisnya usai.

Kulihat pantulan lain, disana ada seorang anak 12 tahun, garis-garis kesedihan menghapus keluguannya yang masih pagi. Ada air mata karena kehilangan, ada kelelahan karena kesepian, dan ada kebimbangan karena kegelapan. Di pelupuk mimpinya, ada ketegaran dan rangkaian-rangkaian doa sebagai pelangi dihari esoknya.

Tersentak dengan seorang wanita 18 tahun, dia baru saja menginjak duri-duri di taman lamunannya. Dengan harapan yang berbinar bersama masa-masa yang membuatnya begitu keras, dia terus berjalan, tersenyum dan sekali-sekali menangis menemani kekosongan harinya.

Dan akhirnya kuterjaga, siapakah mereka? aku terjebat dalam jejaring waktu yang sedang bermain dengan aksesoris-aksesorisnya.Ada sang cinta dengan godaan mungilnya, ada sang sibuk yang slalu mengejar perhatianku, ada bunga-bunga yang sementara ada dimusim semiku, dan masih ada 1 sosok, yang tak pernah pergi dari cerita lamaku dan akan tetap setia disana, bersama kekuatan pada batas yang tak pernah kutau, Dia lah Tuhan ku.

Autumn

red-maple-tree

Hi my online friend, i’m back to write down all of my experiences during this week. This week is the third week in fall semester. The weather is changing from the humid summer into the windy autumn. The leaves are changing their colour and fall off the trees. Actually, I enjoy the colour of autumn. I just imagine how great our God is…. when He created this wonderful season. Well, I wonder why do fall leaves change colour? I got the answer from one of the sides. Hereis the explanation:

Leaves are nature’s food factories. Plants take water from the ground through their roots. They take a gas called carbon dioxide from the air. Plants use sunlight to turn water and carbon dioxide into glucose. Glucose is a kind of sugar. Plants use glucose as food for energy and as a building block for growing. The way plants turn water and carbon dioxide into sugar is called photosynthesis. That means “putting together with light.” A chemical called chlorophyll helps make photosynthesis happen. Chlorophyll is what gives plants their green color.

As summer ends and autumn comes, the days get shorter and shorter. This is how the trees “know” to begin getting ready for winter.

During winter, there is not enough light or water for photosynthesis. The trees will rest, and live off the food they stored during the summer. They begin to shut down their food-making factories. The green chlorophyll disappears from the leaves. As the bright green fades away, we begin to see yellow and orange colors. Small amounts of these colors have been in the leaves all along. We just can’t see them in the summer, because they are covered up by the green chlorophyll.

The bright reds and purples we see in leaves are made mostly in the fall. In some trees, like maples, glucose is trapped in the leaves after photosynthesis stops. Sunlight and the cool nights of autumn cause the leaves turn this glucose into a red color. The brown color of trees like oaks is made from wastes left in the leaves (source: http://www.sciencemadesimple.com/leaves.html).

WOW, that’s the explanation from the science perspective. Above all, I want you to know that this is my first autumn in Korea. Then, I wouldn’t pass this season without enjoying it.

Ceritaku

Kutuliskan cerita ini bersama sejuta perasaan yang saling beradu dalam keegoisan dan kelemahanku sebagai seorang manusia.

Ku terdiam….menyimpan setiap penggal kata yang terselip di pelupuk hati dan tak sempat kukatakan pada seseorang yang sudah menyelinap masuk dalam pikiran, hati, perasaan, dan sanubariku. Kusadari setelah diam dalam keheningan permulaan musim gugur di samping jendela kamarku, aku sendiri. Dan kuhanya ingin kau tau, aku akan tetap berdiri tegar seperti pohon maple yang sedang luluh lantak menguningkan kekasih hatinya, sang dedaun yang sebentar lagi jatuh dan kembali kepada ibu pertiwinya.

Ketika aku berjalan pulang mendaki perbukitan yang menjadi jantung tempat aku meminjamkan nafasnya untuk berdiam sementara, tak sengaja aku titipkan air mataku disetiap sela persimpangan yang selalu setia menjadi saksi kisah hati setiap manusia yang singgah disana. Dan aku berterima kasih, karena pertemuanku denganmu, aku bisa menyaksikan kemegahan empat musim di negeri yang sedang menyimpan rahasia anak cucunya pada masa kejayaannya.

Aku telah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat dari aku yang kemarin lusa engkau kenal. Setiap jengkal keintiman yang tercipta diantara untaian waktu yang kau sisakan untukku telah menjadi pondasi kerendahan hati di kesederhanaanku. Seolah sedang kugenggam sebutir pasir harapan yang kubawa pulang dari pantai gyongpo pada musim panas lalu, aku sedang bermain dibawah kepenatan petang hari ini.

Aku tak pernah marah karena pertemuan dan perpisahan denganmu yang mengalir seperti embun pagi di rangkaian pengunungan mudan.
Namun, aku hanya ingin mengubur semua kenanganmu yang hanya kau tinggalkan di beberapa titik di garis horizon tua itu. Aku tau, ketika harapanku dan sakitku harus kukirimkan bersama suara tangis nirwana yang baru saja lahir, aku sudah kehilanganmu. Cukup kutinggalkan satu penggal kalimat rapuh bersama sisa-sisa rasa yang tetap diam didalam sana, cukup kuucapkan dengan petikan huruf-huruf yang sedang mengalir bersama air mataku, “segala doaku untuk kebaikanmu bersama musim ini kumohonkan untukmu.”

Aku seperti sedang melakonkan sebait puisi yang kukarang sendiri. Menjadi peran utama merangkap sutradara, layaknya deman drama korea yang sedang naik daun. Kemunafikan dan percintaan menyatu dalam dialog-dialog hafalan sang aktor. Dan ketika kutersadar, ini hanya sebuah permainan, sepenggal prolog untuk menghabiskan waktu sebelum masuk pada cerita klimaks. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada engkau yang sudah memulai dan mengakhiri cerita ini, seolah mengembalikan bunga-bunga sakura yang sudah lama hilang pada musim semi di tempatnya yang terbaik.

Andai, waktu ketika engkau mengucapkan “selamat pagi” aku sudah cukup kuat, andai aku telah cukup dewasa waktu itu. Ah, mungkin semua perandaian ini akan menghantarkan aku pada cerita yang lain, mungkin juga menghantarku pada kemegahan Donegal Mountains. Bukankah karena kesejukan dan karunia, salju-salju tua masih tetap dingin di puncaknya yang tertinggi? Ah sudahlah, semua yang indah dan buruk sudah terjadi. Dengan ketulusan dari hatiku, aku hanya ingin mengatakan “selamat tinggal”. Akan ada banyak hari-hari yang luar biasa untuk masing-masing kita. Dengan sedikit rasa rindu, sesekali akan kupandang debu tua yang tinggal di hatiku. Siapapun engkau, aku tau engkau orang yang hebat dan bijaksana untuk memulai ceritamu yang baru. Seiring ucapan maafku jika aku meninggalkan goresan di hari-harimu, yang jujur kukatakan, aku tidak sengaja, mungkin karena cinta yang menjadi kutuk juga berkat untuk kita.