Di hari tua,
yang sedang berjuang untuk ceritanya,
aku ada dan berdoa
tuk nikmati sisa-sisa kepenatan pada kisah sedihnya.
Rintik kecil di mendungku,
pernah berganti dengan pelangi jingga
Goresan basah di persimpangan jalanku,
pun pernah terbalut dan sembuh.
Petikan-petikan jejari mungilku,
pernah mengirimkan rangkaian-rangkaian kasih,
tertata rapi dengan kesederhanaan,
terikat dengan ketulusan.
Kata-kata dari keluguanku,
pernah menerbitkan mentari di senyummu,
dia juga pernah membawa awan gelap ditidurmu,
dan sepenggal kenangan di mimpimu.
Dan jika aku berhenti,
mengingat suatu pertemuan tanpa batas
karena kerinduan hati yang menunggu pada garis memori
hanya untuk mengecup bayang-bayang yang sembunyi di pojok hati
Betapa sunyi ketika semua menjadi bisu
dan aku berdiri pada persimpangan semu,
menanti suatu janji yang diteguhkan oleh waktu,
namun terhapus sebelum kusatukan langkahku
Lagu yang kita mainkan pagi ini,
harus pulang dengan melodi yang patah.
Tulisan yang kita rangkai bersama,
harus selesai pada titik ego yang beradu tanpa jawaban
Kepingan hati yang masih menunggu,
biarkan dia mati disini,
membawa bendera hitam,
dan menangis pada suatu akhir
Dan kubawa perasaan yang bukan lagi aku,
dan kupulang dengan tekat yang bukan lagi aku,
dan aku, akan terus menjadi aku yang bukan aku.
karena kasih yang bukan untukku.
Gwangju, 2-2-2010
Yulia