Sekali lagi, kuberjalan diatas putihnya musim dingin yang sudah kehilangan harapannya. Dan kuberikan setitik airmataku sebagai salam kehangatan dari hatiku untuknya. Kembali, kugoreskan namaku sebelum kemarahannya menghapus apa yang sudah tertulis. Bukan hanya satu warna kehidupan yang kuselipkan disini, namun seluruh kepingan kepingan rapuh musim gugur lalu yang sudah kususun kembali. Akhirnya, sang waktu yang memenangkan segalanya sampai hari ini.
Sesaat lalu, kutuliskan cerita yang sama pada lembaran yang baru, membangun harapan-harapan dengan pena yang baru. Keteguhan yang begitu kokoh, membuatku iri pada pohon-pohon pinus yang masih beradu dengan pucatnya nafas musim ini. Ketika seluruh alam berduka dan tertidur, ia masih berpijak pada keangkuhannya dan memegang erat dedaun yang berlindung pada kehangatannya. Andaikan aku adalah bagian dari helaian kecil itu, aku akan menari dengan melodi yang tak akan pernah layu disela-sela dukaku.
Kurasakan salju-salju itu sedang membekukan hatiku secara perlahan. Segala asa yang kutitipkan pada mentari yang hanya menjadi aksesoris, jatuh dan tenggelam bersama kepedihan senja. Aku ingin berlari, mengadu kepada langit yang sudah cukup berat menahan bebannya. Aku ingin kembali kepada kehidupan, ia pun sedang sibuk menyusun kembali kisah-kisah yang mulai berantakan. Dan tinggallah sisa-sisa kasih yang harus kulepaskan perlahan dan mengijinkannya menemukan fondasi yang lebih kuat dari hari ini.
Ketika permainan ini harus selesai dengan kepedihan, semoga ia melahirkan suatu ketulusan sebagai hadiah dari keiklasan. Kenyataan yang membangunkanku membuatku tersadar, dinginnya salju yang sudah mulai tinggal pagi ini dan hangatnya matahari yang pergi dengan kesedihan adalah suatu pilihan indah yang membuat aku ada.
Gwangju, January 25 2009
Yulia