Kutertegun sejenak di peraduan waktu,menatap bayang-bayang yang memantulkan cerita-cerita lama.Disana ada gadis mungil, merapikan rambutnya yang terlipat oleh nakalnya angin senja. Dia berlari kecil, menjangkau sosok-sosok dewasa yang begitu hebat dibenaknya. Pada akhirnya dia jatuh dan menangis, namun dia tetap mendapatkan mentari slalu masih ada disana hingga tangisnya usai.
Kulihat pantulan lain, disana ada seorang anak 12 tahun, garis-garis kesedihan menghapus keluguannya yang masih pagi. Ada air mata karena kehilangan, ada kelelahan karena kesepian, dan ada kebimbangan karena kegelapan. Di pelupuk mimpinya, ada ketegaran dan rangkaian-rangkaian doa sebagai pelangi dihari esoknya.
Tersentak dengan seorang wanita 18 tahun, dia baru saja menginjak duri-duri di taman lamunannya. Dengan harapan yang berbinar bersama masa-masa yang membuatnya begitu keras, dia terus berjalan, tersenyum dan sekali-sekali menangis menemani kekosongan harinya.
Dan akhirnya kuterjaga, siapakah mereka? aku terjebat dalam jejaring waktu yang sedang bermain dengan aksesoris-aksesorisnya.Ada sang cinta dengan godaan mungilnya, ada sang sibuk yang slalu mengejar perhatianku, ada bunga-bunga yang sementara ada dimusim semiku, dan masih ada 1 sosok, yang tak pernah pergi dari cerita lamaku dan akan tetap setia disana, bersama kekuatan pada batas yang tak pernah kutau, Dia lah Tuhan ku.