Kutuliskan cerita ini bersama sejuta perasaan yang saling beradu dalam keegoisan dan kelemahanku sebagai seorang manusia.
Ku terdiam….menyimpan setiap penggal kata yang terselip di pelupuk hati dan tak sempat kukatakan pada seseorang yang sudah menyelinap masuk dalam pikiran, hati, perasaan, dan sanubariku. Kusadari setelah diam dalam keheningan permulaan musim gugur di samping jendela kamarku, aku sendiri. Dan kuhanya ingin kau tau, aku akan tetap berdiri tegar seperti pohon maple yang sedang luluh lantak menguningkan kekasih hatinya, sang dedaun yang sebentar lagi jatuh dan kembali kepada ibu pertiwinya.
Ketika aku berjalan pulang mendaki perbukitan yang menjadi jantung tempat aku meminjamkan nafasnya untuk berdiam sementara, tak sengaja aku titipkan air mataku disetiap sela persimpangan yang selalu setia menjadi saksi kisah hati setiap manusia yang singgah disana. Dan aku berterima kasih, karena pertemuanku denganmu, aku bisa menyaksikan kemegahan empat musim di negeri yang sedang menyimpan rahasia anak cucunya pada masa kejayaannya.
Aku telah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat dari aku yang kemarin lusa engkau kenal. Setiap jengkal keintiman yang tercipta diantara untaian waktu yang kau sisakan untukku telah menjadi pondasi kerendahan hati di kesederhanaanku. Seolah sedang kugenggam sebutir pasir harapan yang kubawa pulang dari pantai gyongpo pada musim panas lalu, aku sedang bermain dibawah kepenatan petang hari ini.
Aku tak pernah marah karena pertemuan dan perpisahan denganmu yang mengalir seperti embun pagi di rangkaian pengunungan mudan.
Namun, aku hanya ingin mengubur semua kenanganmu yang hanya kau tinggalkan di beberapa titik di garis horizon tua itu. Aku tau, ketika harapanku dan sakitku harus kukirimkan bersama suara tangis nirwana yang baru saja lahir, aku sudah kehilanganmu. Cukup kutinggalkan satu penggal kalimat rapuh bersama sisa-sisa rasa yang tetap diam didalam sana, cukup kuucapkan dengan petikan huruf-huruf yang sedang mengalir bersama air mataku, “segala doaku untuk kebaikanmu bersama musim ini kumohonkan untukmu.”
Aku seperti sedang melakonkan sebait puisi yang kukarang sendiri. Menjadi peran utama merangkap sutradara, layaknya deman drama korea yang sedang naik daun. Kemunafikan dan percintaan menyatu dalam dialog-dialog hafalan sang aktor. Dan ketika kutersadar, ini hanya sebuah permainan, sepenggal prolog untuk menghabiskan waktu sebelum masuk pada cerita klimaks. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada engkau yang sudah memulai dan mengakhiri cerita ini, seolah mengembalikan bunga-bunga sakura yang sudah lama hilang pada musim semi di tempatnya yang terbaik.
Andai, waktu ketika engkau mengucapkan “selamat pagi” aku sudah cukup kuat, andai aku telah cukup dewasa waktu itu. Ah, mungkin semua perandaian ini akan menghantarkan aku pada cerita yang lain, mungkin juga menghantarku pada kemegahan Donegal Mountains. Bukankah karena kesejukan dan karunia, salju-salju tua masih tetap dingin di puncaknya yang tertinggi? Ah sudahlah, semua yang indah dan buruk sudah terjadi. Dengan ketulusan dari hatiku, aku hanya ingin mengatakan “selamat tinggal”. Akan ada banyak hari-hari yang luar biasa untuk masing-masing kita. Dengan sedikit rasa rindu, sesekali akan kupandang debu tua yang tinggal di hatiku. Siapapun engkau, aku tau engkau orang yang hebat dan bijaksana untuk memulai ceritamu yang baru. Seiring ucapan maafku jika aku meninggalkan goresan di hari-harimu, yang jujur kukatakan, aku tidak sengaja, mungkin karena cinta yang menjadi kutuk juga berkat untuk kita.